Drama Hukum dan Sinetron Keadilan Negeri Ini

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Drama Hukum dan Sinetron Keadilan Negeri Ini

Post by Eko Witono on Tue Nov 24, 2009 12:52 am

Assalaamu'alaikum Wr.Wb.

Akhi fillah rahimakumullah.. selama lebih dari 3 bulan, fokus pengamatan rakyat di negeri ini tercurah pada film drama melody bertajuk Penegakan Hukum dengan berbagai sequel sinetron para komentator politisi dan tokoh masyarakat terkit dengan tema Hilangnya Rasa Keadilan dan Sifat Kejujuran dari Hati Nurani para pejabat dan petinggi hukum di Indonesia. Akhirnya.. malam hari ini tadi, kita saksikan semua bersama-sama, berakhir dengan sadly ending. Why?

Sebagaimana yang telah kita ketahui semua, semenjak kita belajar di Ma'had tercinta hingga menempuh pendidikan di strata perguruan tinggi, Sistem Demokrasi memiliki banyak kemadharatan daripada kemanfaatannya. Sistem inilah yang sesungguhnya telah banyak memporak-porandakan berbagai tatanan sosial kemasyarakatan di negeri ini. Dimulai dengan kemerosotan akhlak dan moralitas di berbagai kalangan, mulai dari Generasi Tua hingga Generasi Mudanya. Kemudian kebangkrutan ekonomi di berbagai sektor, yang berimplikasi pada bertambahnya penderitaan yang berlipat ganda di kehidupan masyarakat rakyat jelata, akar rumput di berbagai pelosok negeri. Sehingga duka nestapa dan air mata mereka terus bercucuran tanpa kenal henti hingga detik hari ini. Penanganan bencana alam yang acak adut, penegakan hukum yang tebang pilih, penyelenggaraan aset negara yang carut marut, hingga pada akhirnya gong kematian Rasa Keadilan-pun bergema malam tadi. Oleh presiden terpilih yang charming, pada pemerintahan Rezim Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II.

Banyak tokoh masyarakat berkomentar negatif terhadap pidato presiden tersebut,tetapi yang bersangkutan tetap keukeuh memegang prinsip, berpegang pada komitmen, bahwa Presiden tidak bisa intervensi ke dalam ranah hukum Kejaksaan. Sebagai yang berstatus akademik S3 (Doktor), seharusnya beliau merasa malu kepada para mahasiswa hukum di seluruh PTN dan PTS se-Indonesia. Mengapa? Karena justru beliau terjebak dalam legalitas formal prosedur hukum. Memang sah-sah saja beliau mengatakan demikian. Tidak salah. Hanya saja, mengapa justru langkah blunder ini yang ditempuh beliau? Mari kita cermati orang-orang yang berada di Ring I Kepresidenan. Terlihat jelas, banyak tokoh kapitalis yang sangat amat liberal berada di sekitar beliau. Mereka adalah perpanjangan tangan para pemilik modal asing yang dimotori oleh antek-antek Yahudi dan Amerika. Mereka tidak ingin berbagai kepentingan ekonomi mereka di Indonesia terancam. Mulai dari Freeport, Newmont, Shell, dan berbagai Badan Usaha Milik (Mayoritas) Asing lainnya yang bertebaran dan bercokol puluhan tahun di bumi Indonesia, sejak dari ujung Timur Aceh hingga ujung Barat Papua, mulai dari ujung Utara Kalimantan hingga ujung Selatan NTB. Mereka gerah dan merasa terancam dengan semakin menggigitnya kinerja KPK, meski sebenarnya masih juga tebang pilih. Tapi bolehlah.. daripada tidak ada sama sekali lembaga lain yang bisa diandalkan dalam penegakan hukum dan rasa keadilan di negeri ini.

Inilah latar belakang sesungguhnya dibalik KPK vs Polisi atau Cicak vs Buaya. UUD, Ujung-Ujung-nya Duit dan hanya Duit. Mulai dari mafia peradilan, penyuapan, korupsi jabatan dan bermuara dari menangnya kelompok kapitalis liberal, yang ingin menguasai semaksimal mungkin sumber-sumber ekonomi SDA di bumi Indonesia dalam waktu yang selama mungkin. Kita tahu sejak lama, bahwa aparat hukum di sektor Kepolisian, Kejaksaan, dan Kehakiman negeri ini, berbuat dzalim, aniaya, khianat dan pongah terhdap amanah yang seharusnya diemban secara jujur dan istiqamah. Mereka yang kebanyakan Islam KTP senang menghambur-hamburkan kata Demi Allah dan mengabaikan konsekuensi dari kata-kata tersebut. Naudzubillaahi min dzalik.. Semoga keluarga mereka, anak dan istri mereka dijauhkan dari berbagai musibah, dikarenakan ayah dan suami mereka, memberi nafkah dari sesuatu yang haram lagi tidak berkah, amien.. Tapi, mengapa mereka juga diam tak bersuara? Menyaksikan sikap ayah dan suami mereka bertindak sedemikian rupa? Seorang Mbok Minah dan Bu Prita, diganjar sekian bulan dan tahun hukuman. Sementara oknum Kepolisian, Kejaksaan, dan Kehakiman, dengan tenang dan leluasa bergelimang berbagai fasilitas jabatan yang sangat mewah, tetap bebas bekerja dan bertingkah polah aniaya. Inikah sistem Demokrasi itu wahai Akhi fillah? Sistem yang banyak dihamba oleh rakyat Indonesia. Mengapa bukan sistem Syari'ah Islamiyyah? Yang sudah jelas terbukti dan terukur hasil dan manfaatnya bagi rakyat kebanyakan?! Itulah kemenangan para thaghut, penghamba hasutan setan dan iblis, yang jelas-jelas telah difirmankan Allah SWT dalam Al-Qur'an bahwa mereka adalah musuh manusia yang nyata. Mengapa manusia tetap terjerumus di dalamnya? Jawabannya, karena memang iman manusia kadang naik kadang turun. Astaghfirullaahal adzhiim.. naudzubillaahi min dzaalik..

Akhi fillah.. mari rapatkan barisan untuk menegakkan kalimat tauhid di negeri ini.. mari kumandangkan kembali semangat kejujuran dan keadilan dalam berbagai bentuk aktivitas perbuatan di berbagi lingkup pekerjaan kita.. mari kita dampingi masyarakat, alam menegakkan kembali bendera kejujuran dan keadilan, tetap qana'ah dan tetap istiqamah dalam mengemban amanah khalifah fiel ardl.. agar ancaman hukuman Allah SWT tidak turun terus menerus di bumi Indonesia ini.. amien.. yaa Rabbal 'aalamien..

Wallaahu a'lam bis shawwaab..

Wassalaamu'alaikum Wr.Wb.

Eko Witono

Jumlah posting : 37
Age : 49
Points : 48
Registration date : 13.08.08

http://puzzlekayuqu.blogspot.co.id/

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik