Belajar dari Ibrahim as.

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Belajar dari Ibrahim as.

Post by Mikaiel on Tue Mar 10, 2009 10:57 am

BOHONG !! kalau ada orang bilang cinta tapi tidak mau berkorban. Lidahnya mengucapkan cinta namun hatinya eman kehilangan sesuatu buat cintanya. Inginnya cuma yang enak-enak saja. Setelah mendapatkan kenikmatan bagai pisang lupa kulitnya. Memang begitulah manusia. Dari zaman Mbah Gadjah Mada sampai zaman SBY makin banyak saja yang terkena penyakit yang satu ini, moh kelangan bin eman-eman. Eman-eman kehilangan jabatan, eman-eman kehilangan uang, harta benda, rumah, sawah, ternak, pokoknya semua yang berbau duniawi. Eksistensi dan wujud dari sebuah cinta adalah pengorbanan. Seberapa banyak hal yang ia korbankan, makin tinggi pula kadar cintanya.

Berbicara masalah pengorbanan, tentu kita semua telah mengetahui icon manusia yang satu ini. Penuh totalitas dalam membuktikan rasa cinta dan penghambaan kepada Allah SWT. Tidak pilah-pilih dalam menjalankan semua yang diperintahkan kepadanya sampai pun anak semata wayang yang amat ia cintai pun rela ia korbankan demi rasa cintanya kepada Allah SWT. Inilah bukti dari cintanya tersebut. Ya, dialah Ibrahim as. Sosok yang begitu mulia di hadapan seluruh penghuni kolong langit dan bumi. Kedekatan dan kepatuhannya secara paripurna kepada Allah telah menjadikannya sebagai khalilullah (kekasih Allah). Tercatat bahwa ia tampil sebagai pemeran utama dalam dua ibadah sekaligus di hari raya Idul Adha, yakni haji dan ibadah qurban. Dalam ibadah haji, peran Nabi Ibrahim as tidak bisa dilepaskan darinya. Sebagaimana firman-Nya. Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di Baitullah (dengan mengatakan): ”Janganlah kamu mempersekutukan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, orang-orang yang beribadat dan orng-orang yang ruku’ serta sujud. Dan kemudian serulah manusia untuk menunaikan ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (Al-Hajj) : 26-27)

Haji termasuk ibadah yang membutuhkan pengorbanan yang sangat besar. Tidak hanya bermodalkan uang, kesempatan, dan kesehatan saja. Akan tetapi lebih dari itu, haji esensi dari sebuah ibadah juga harus tetap ada yakni ikhlas melaksanakannya hanya karena Allah semata. Segala tetek bengek atribut tampilan luar yang mencerminkan kedudukan dan status sosial haruslah ditanggalkan. Dengan hanya mengenakan dua helai kain ”ihram” mencerminkan sikap tawadhu’ dan kesamaan antar seluruh manusia. Dengan pakaian sederhana ini seseorang akan lebih mudah mengenal Allah karena dia sudah mengenal dirinya sendiri melalui ibadah wuquf di Arafah. Namun sayang dan sungguh malang bagi mereka yang menjalankannya hanya untuk hal-hal murahan. Mereka yang berangkat haji hanya untuk gelar, gengsi, ataupun plesiran dan bangga-banggaan saja. Dan Ibrahim as dan putranya Ismail as telah mencontohkannya kepada kita semua akan semua itu hanya untuk dipersembahkan kepada Allah SWT.

Dalam ibadah qurban, kembali Nabi Ibrahim tampil di dalamnya sebagai sosok manusia yang mendapat ujian dari Allah SWT. Ia harus menunjukkan ketaatannya secara totalitas dengan menyembelih putra kesayangan yang telah dinantinya sekian lama. Sebuah kisah yang sangat monumental dalam sejarah peradaban manusia yang menjadi cikal bakal ibadah qurban.

Maka tatkala anak itu sampai sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ”Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu. Ia menjawab: ”Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; InsyaAllah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (Ash-Shaffat : 102).

Begitu mengagumkan, keimanan seorang Ibrahim diuji dengan perintah untuk menyembelih putranya sendiri. Dan ia berhasil melewati ujian keimanan itu. Keyakinan akan perintah Allah membuat hatinya kuat mengorbankan anaknya sendiri. Begitu juga Ismail, orang tua mana yang tidak terharu mendengar jawaban seorang anak yang begitu santun dan ringan menjalankan perintah Allah yang begitu beratnya. Pastaslah jika Al Quran menyebutnya dengan ghulamun halim. Beginilah seharusnya sikap seorang mukmin ketika mendengar perintah Allah SWT, tanpa komentar dan pilah-pilih. Jika perintah itu datang dari Allah, maka sami’na wa atha’na, kami mendengar dan kami menaati. Nabi Ibrahim menyadari akan hal itu. Apapun yang ia cintai meskipun hal itu adalah anaknya sendiri, dengan penuh keyakinan ia korbankan manakala Allah menghendaki. Begitulah, pengorbanan menjadi harga mati bagi iman. Di mana geliat iman akan terlihat pada seberapa besar pengorbanan kita, seberapa banyak kita memberi, seberapa banyak keringat kita menetes, dan puncak dari segalanya adalah dimana kita menyerahkan harta dan jiwa sebagai persembahan total kepada Allah SWT. Ismail hanyalah simbol dari segala yang kita miliki dan cintai dalam hidup ini. Kalau Ismailnya Nabi Ibrahim adalah putranya sendiri, lalu siapakah Ismail kita ? Bisa jadi diri kita sendiri, anak dan istri kita, harta, atau pangkat dan jabatan kita.

Inilah pelajaran yang sangat berharga bagi semua umat manusia. Namun berapa banyak dari mereka yang berhasil mendulang emas darinya. Dengan semangat meneladani kisah sarat pengorbanan dari Nabi Ibrahim dan Ismail, marilah kita menatap Idul Adha yang sebentar lagi akan tiba dengan penuh semangat. Semangat untuk berqurban dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Jangan sampai hal ini malah menjadi momok yang senantiasa menghantui saku-saku kantong kita. Namun kita jadikan hari raya Idul Adha sebagai ladang beramal, ladang berkorban, dan ladang menempa iman kita. [Ayyas]
avatar
Mikaiel
Admin

Jumlah posting : 61
Age : 28
Points : 34
Registration date : 08.06.08

http://sobatmuslim.wordpress.com

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik